Berkabung Karena Meninggalnya Suami

(BUKHARI – 302) : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abdul Wahhab berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Hafshah berkata, Abu ‘Abdullah atau Hisyam bin Hassan berkata dari Hafshah dari Ummu ‘Athiyah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata, “Kami dilarang berkabung atas kematian di atas tiga hari kecuali atas kematian suami, yaitu selama empat bulan sepuluh hari. Selama masa itu dia tidak boleh bersolek, memakai wewangian, memakai pakaian yang berwarna kecuali pakaian lurik (dari negeri Yaman). Dan kami diberi keringanan bila hendak mandi seusai haid untuk menggunakan sebatang kayu wangi. Dan kami juga dilarang mengantar jenazah.” Abu ‘Abdullah berkata, Hisyam bin Hassan meriwayatkan dari Hafshah dari Ummu ‘Athiyah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Wanita Yang Menghuni Neraka ; Mereka Yang Mengingkari Pemberian Suami

BUKHARI – 293) : Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abu Maryam berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ja’far berkata, telah mengabarkan kepadaku Zaid -yaitu Ibnu Aslam- dari ‘Iyadl bin ‘Abdullah dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari raya ‘Iedul Adlha atau Fitri keluar menuju tempat shalat, beliau melewati para wanita seraya bersabda:

“Wahai para wanita! Hendaklah kalian bersedekahlah, sebab diperlihatkan kepadaku bahwa kalian adalah yang paling banyak menghuni neraka.”

Kami bertanya, “Apa sebabnya wahai Rasulullah?”

beliau menjawab: “Kalian banyak melaknat dan banyak mengingkari pemberian suami. Dan aku tidak pernah melihat dari tulang laki-laki yang akalnya lebih cepat hilang dan lemah agamanya selain kalian.”

Kami bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apa tanda dari kurangnya akal dan lemahnya agama?”

Beliau menjawab: “Bukankah persaksian seorang wanita setengah dari persaksian laki-laki?”

Kami jawab, “Benar.”

Beliau berkata lagi: “Itulah kekurangan akalnya. Dan bukankah seorang wanita bila dia sedang haid dia tidak shalat dan puasa?”

Kami jawab, “Benar.”

Beliau berkata: “Itulah kekurangan agamanya.”

kumpulan hadist

HADITS TENTANG WANITA HAID

Hadits tentang wanita haid

(BUKHARI – 310)

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il berkata, telah menceritakan kepada kami Hammam berkata, telah menceritakan kepada kami Qatadah berkata, telah menceritakan kepadaku Mu’adzah, bahwa ada seorang wanita bertanya kepada ‘Aisyah, “Apakah seorang dari kita harus melaksanakan shalat yang ditinggalkannya bila sudah suci?” ‘Aisyah menjawab, “Apakah kamu dari kelompok Khawarij! Sungguh kami pernah mengalami haid di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau tidak memerintahkan kami untuk itu.” Atau Aisyah mengatakan, “Kami tidak melakukannya (mengqadla`).”

HADIST TENTANG WANITA BERSUCI

HADIST TENTANG WANITA BERSUCI

(BUKHORI – 303)

Telah menceritakan kepada kami Yahya berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari Manshur bin Shafiyyah dari Ibunya dari ‘Aisyah, “Seorang wanita bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang cara mandi dari haid. Beliau lalu memerintahkan wanita itu bagaimana cara mandi. Beliau bersabda: “Ambillah sepotong kapas yang diberi wewangian lalu bersucilah.” Wanita itu bertanya, “Bagaimana aku bersucinya? Beliau menjawab: “Bersucilah dengan kapas itu!” Wanita itu berkata lagi, “Bagaimana caranya aku bersuci?” Beliau bersabda: “Bersucilah dengan menggunakan kapas itu!” Wanita itu bertanya lagi, “Bagaimana caranya?” Maka Beliau berkata, “Subhaanallah. Bersucilah kamu!” Lalu aku manarik wanita itu kearahku, lalu aku katakan, “Kamu bersihkan sisa darahnya dengan kapas itu.”

HADITS TENTANG WANITA

(MUSLIM – 497)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, Amr an-Naqid, Ishaq bin Ibrahim, dan Ibnu Abi Umar semuanya meriwayatkan dari Ibnu Uyainah Ishaq berkata, telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Ayyub bin Musa dari Sa’id bin Abi Sa’id al-Maqburi dari Abdullah bin Rafi’ budak Ummu Salamah dari Ummu Salamah dia berkata, “Saya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, lalu aku membukanya untuk mandi junub.” Beliau bersabda, “Jangan (kamu buka), cukuplah kamu menumpahkan air pada kepalamu tiga kali, kemudian kamu mencurahkan air padamu, maka kamu telah suci.” Dan telah menceritakan kepada kami Amru an-Naqid telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dan telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid telah mengabarkan kepada kami Abdurrazzaq keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami ats-Tsauri dari Ayyub bin Musa dalam isnad ini, dan pada hadits Abdurrazzaq, “Lalu aku membukanya karena mandi haid dan junub. Lalu beliau bersabda, “Jangan (kamu membukanya) ” Kemudian dia menyebutkan dengan makna hadits Ibnu Uyainah. Dan telah menceritakannya kepadaku Ahmad ad-Darimi telah menceritakan kepada kami Zakariya’ bin ‘Adi telah menceritakan kepada kami Yazid, yaitu Ibnu Zurai’ dari Rauh bin al-Qasim telah menceritakan kepada kami Ayyub bin Musa dengan isnad ini, dan dia berkata, “Apakah aku harus membukanya, lalu aku mandi karena junub.” Dan dia tidak menyebutkan, “Haid.”