Hadist Tentang Shalat dan Haid

(BUKHARI – 321) : Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Mudrik berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammad berkata, telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Awanah nama aslinya adalah Al Wadldlah sebagaimana dalam kitabnya, ia berkata; telah mengabarkan kepada kami Sulaiman Asy Syaibani dari ‘Abdullah bin Syaddad berkata,

Aku mendengar bibiku Maimunah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

bahwa

ia mengalami haid dan tidak melaksanakan shalat. Dan ia tidur di depan tempat sujud Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang saat itu sedang shalat di atas tikar (kecil) nya, jika sujud beliau maka sebagian kainnya mengenaiku.”

Wanita yang haid diberi keringanan untuk nafar (meninggalkan Mina)

(BUKHARI – 318) : Telah menceritakan kepada kami Mu’alla bin Asad berkata, telah menceritakan kepada kami Wuhaib dari ‘Abdullah bin Thawus dari Bapaknya dari Ibnu ‘Abbas berkata, “Wanita yang haid diberi keringanan untuk nafar (meninggalkan Mina), dan pada mulanya Ibnu Umar melarang hal itu, namun kemudian aku mendengar ia mengatakan, ‘Wanita haid boleh nafar karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberi keringanan buat mereka.”

Darah Istihadlah Ummu Habibah

(BUKHARI – 316) : Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Al Mundzir berkata, telah menceritakan kepada kami M’an berkata, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Dzi’b dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah dan dari ‘Amrah dari ‘Aisyah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Ummu Habibah mengeluarkan darah istihadlah (darah penyakit) selama tujuh tahun. Lalu ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang masalah itu. Beliau lalu memerintahkan kepadanya untuk mandi, beliau bersabda: “Ini seperti keringat (darah penyakit).” Maka Ummu Habibah selalu mandi untuk setiap kali shalat.”

Shalat Idul Fitri dan Wanita Haid

(BUKHARI – 313) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad -yaitu Ibnu Salam- berkata, telah mengabarkan kepada kami ‘Abdul Wahhab dari Ayyub dari Hafshah berkata, “Dahulu kami melarang anak-anak gadis remaja kami ikut keluar untuk shalat pada dua hari raya. Hingga suatu hari ada seorang wanita mendatangi desa Qashra Banu Khalaf, wanita itu menceritakan bahwa suami dari saudara perempuannya pernah ikut berperang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebanyak dua belas peperangan, ia katakan, ‘Saudaraku itu hidup bersama suaminya selama enam tahun.’ Ia menceritakan, “Dulu kami sering mengobati orang-orang yang terluka dan mengurus orang yang sakit.’ Saudara perempuanku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Apakah berdosa bila seorang dari kami tidak keluar (mengikuti shalat ‘Ied) karena tidak memiliki jilbab?”

Beliau menjawab: “Hendaklah kawannya memakaikan jilbab miliknya untuknya (meminjamkan) agar mereka dapat menyaksikan kebaikan dan mendo’akan Kaum Muslimin.”

Ketika Ummu ‘Athiyah tiba aku bertanya kepadanya, “Apakah kamu mendengar langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?”

Ummu ‘Athiyah menjawab, “Ya. Demi bapakku!” Ummu ‘Athiyah tidak mengatakan tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali hanya mengatakan ‘Demi bapakku, aku mendengar beliau bersabda:

“Hendaklah para gadis remaja dan wanita-wanita yang dipingit di rumah, dan wanita yang sedang haid ikut menyaksikan kebaikan dan mendo’akan Kaum Muslimin, dan wanita-wanita haid menjauh dari tempat shalat.” Hafshah, “Aku katakan, “Wanita haid?” Wanita itu menjawab, “Bukankah mereka juga hadir di ‘Arafah, begini dan begini?”

Cium dan Tidur Bersama Istri yang sedang Haid

Telah menceritakan kepada kami Sa’d bin Hafsh berkata, telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Yahya dari Abu Salamah dari Zainab binti Abu Salamah bahwa ia menceritakan kepadanya,

bahwa Ummu Salamah berkata,

“Saat aku berada dalam satu selimut bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, aku mengeluarkan darah haid, kemudian pelan-pelan aku keluar dari selimut mengambil pakaian (khusus untuk haid) dan mengenakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku: “Apakah kamu sedang haid?” Aku jawab, “Ya.” Beliau lalu memanggil dan mengajakku masuk ke dalam selimut.”

Zainab berkata, “Ummu Salamah menceritakan kepadaku bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga menciumnya saat beliau sedang berpuasa.

Ummu Salam berkata, “Aku pernah mandi junub dalam satu bejana bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”

(Bukhori – 311)